
Banyusari, Karawang – Jamaah Majelis Taklim An-Nasaih Ad-Diniyah menggelar doa bersama dan tahlil malam ketujuh untuk almarhum KH. Syukron Ma’mun pada Sabtu malam (24/10/2026) di Mushola Pondok Pesantren An-Nasaih Ad-Diniyah. Kegiatan ini dihadiri jamaah majelis taklim, warga sekitar, para santri, dan dewan asatidz.
Tahlil malam ketujuh ini menjadi penutup rangkaian doa yang dilaksanakan jamaah sejak berpulangnya almarhum. KH. Syukron Ma’mun, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta Selatan, wafat pada Minggu (18/10/2026) dalam usia 84 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Acara dimulai selepas shalat Isya dengan pembacaan surah Yasin secara bersama-sama. Setelah itu, jamaah melanjutkan dengan tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Riki Faisal, Lc., MA., Suasana khidmat terasa ketika jamaah melantunkan kalimat thayyibah secara serempak. Kegiatan ditutup dengan doa yang dikhususkan untuk almarhum, agar diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di sisi terbaik Allah Swt.
Pimpinan Pondok Pesantren An-Nasaih Ad-Diniyah, Ustadz Riki Faisal, Lc., MA., dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa tradisi tahlil merupakan wujud bakti umat kepada para ulama yang telah mendahului.
“Malam ini kita berkumpul sebagai bentuk cinta dan hormat kepada guru umat. Para ulama telah mewariskan ilmu dan teladan kepada kita. Yang bisa kita kirimkan untuk beliau adalah doa, bacaan Al-Qur’an, dan tahlil,” tuturnya.
Ia juga mengajak jamaah meneladani semangat dakwah almarhum. KH. Syukron Ma’mun dikenal dengan julukan “Singa Mimbar” karena ceramahnya yang tegas, berapi-api, dan kuat dalam menyampaikan pesan agama.
“Semangat dakwah beliau patut kita teruskan. Mari kita jaga majelis-majelis ilmu seperti ini, karena di sinilah iman kita dirawat. Jika ulama telah wafat, tugas kita adalah melanjutkan perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Salah seorang jamaah, Data
, mengaku tersentuh dengan kegiatan ini. “Walaupun kami tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, kami merasa ikut kehilangan. Semoga doa dari majelis kecil kami ini sampai kepada almarhum,” ujarnya.
Usai doa, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Majelis Taklim An-Nasaih Ad-Diniyah berharap kebersamaan dalam doa ini mempererat ukhuwah jamaah sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada para ulama.
Lahul Fatihah.


